Topik :

Latest Post

Tampilkan postingan dengan label buddha. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label buddha. Tampilkan semua postingan

Pasangan Hidup Yang Sesuai Dalam Agama Buddha


Dalam pandangan Agama Buddha perkawinan hanyalah merupakan salah satu pilihan hidup di antara banyak pilihan hidup lainnya. Seorang penganut agama Buddha dapat hidup menyendiri menjadi seorang bhikku/ni, samanera/ri, anagarini/silacarini ataupun hidup sendiri dirumah tanpa menikah. Perkawinan hanyalah merupakan salah satu cara untuk mencapai kebahagiaan. Apabila seseorang berniat berumah tangga maka hendaknya ia konsekuen dan setia dengan pilihannya, melaksanakan segala tugas dan kewajibannya dengan sebaik-baiknya. Orang yang demikian sesungguhnya adalah seperti seorang pertapa tetapi hidup dalam tumah tangga.
Sebelum mencapai tahap perkawinan, ada baiknya kita melewati masa perkenalan (pacaran) yang merupakan masa bagi kita untuk saling menjajaki satu sama lain. Ada beberapa faktor yang sebaiknya kita jadikan pertimbangan dalam mencari pasangan hidup yang baik. Terdapat 4 hal yang diuraikan dalam Anguttara Nikaya II,60. Hal tersebut adalah :

A. Kesamaan keyakinan (samma saddha)
Walaupun sering kali dianggap hal yang kurang diperhatikan. Ada baiknya bagi kita untuk mencari pasangan hidup yang sama keyakinannya (agama). Seringkali kita mendengar banyak muda mudi berkata bahwa cinta dapat mengalahkan segalanya. Tetapi jika mereka mau berpikir lebih jauh, bila nanti mereka mempunyai anak, sangatlah sulit untuk menentukan pembinaan agama bagi keturunannya. Orang tua akan terlibat perdebatan berkepanjangan karena menganggap agamanya yang paling baik ( walaupun mungkin dapat diselesaikan jika salah satu ada yang mengalah). Alangkah lebih baiknya jika kedua orang tua bersama anak-anaknya pergi ke Vihara bersama-sama daripada saling memisahkan diri.

B. Kesamaan kemoralan (samma sila)
Jika sudah sama agamanya yaitu Agama Buddha hendaklah pasangan memiliki kesamaan dalam menjalankan Sila yang baik. Alangkah bahagianya jika pasangan dapat harmonis dalam menjalankan Sila-Sila dalam Agama Buddha terutama Pancasila Buddhis. Hal ini akan menambah keharmonisan pasangan karena masing-masing telah mengerti akan Ajaran Sang Buddha dan menjalankannya dalam kehidupan sehari-hari.

C. Kesamaan kedermawanan (samma caga)
Jika pasangan mempunyai watak kedermawanan yang sama dan sesuai dengan Ajaran Sang Buddha maka mereka akan mengerti bahwa sesungguhnya cinta adalah memberi segalanya demi kebahagiaan orang lain.

D. Kesamaan kebijaksanaan (samma panna)
Bila masing masing pasangan memiliki kebijaksanaan yang sama. Maka segala permasalahan yang timbul dalam pacaran maupun pada saat membina pasangan hidup dapat diselesaikan dengan sebaik-baiknya dan sesuai dengan ajaran Agama Buddha. Pasangan harus sama-sama mengerti bahwa masalah yang timbul semuanya adalah akibat ketidakpuasan dan ketidak-kekalan yang semuanya adalah dukkha. Maka jika pasangan memiliki kesamaan kebijaksanaan maka diharapkan masalah dapat diselesaikan dengan sebaik-baiknya. sumber

Pacaran Menurut Agama Buddha


Menyikapi fenomena pacaran di jaman sekarang ini memang bisa membuat kita terpana, gimana tidak, dari kemajuan dan terus menerusnya perkembangan dunia yang makin maju ini tidak terasa meracuni hati dan prilaku manusia yang seharusnya bisa dihindari atau minimal bisa mengurangi kadar racun yang tercampur dalam darah keimanan kita. Khususnya dalam hal ini pacaran, meragukan banget kalau para remaja-remaja muda ini menilai atau definisi pacaran sebagai tali silahturahmi keluarga untuk mengenal dan saling memahami satu sama lain untuk kelancaran hubungan yang berakhir dengan pernikahan, tapi banyak survey membuktikan bahwa hubungan diera modern ini hanya memprioritaskan nafsu bukan mengutamakan the best relationship.
Dari sudut pandang buddhis sendiri jika kita menginginkan sahabat yang baik dan bisa mendukung kita dalam mengatasi krisis relationship maka kita harus memilih pasangan itu dengan hati yang benar-benar tulus. Menurut referensi dari Sigalovada Sutta dijelaskan ada empat jenis sahabat yang perlu dipahami dengan jelas, antara lain:
1. Penolong
2. Sahabat diwaktu senang dan susah
3. Sahabat yang memberi nasihat baik
4. Sahabat yang simpati
Atas empat dasar sahabat yang menolong harus dipandang sebagai sahabat yang berhati tulus, yaitu;
1. Ia menjaga dirimu sewaktu kamu udah tidak siap
2. Ia menjaga milikmu ketika engkau lengah
3. Ia menjadi pelindungmu ketika engkau sedang ketakutan
4. Jika engkau melakukan tugas, ia memberikan bekal dua kali lipat dari yang kamu perlukan.
Atas empat dasar sahabat diwaktu senang dan susah yang harus dipandang sebagai sahabat yang berhati tulus, yaitu;
1. Ia menceritakan rahasia-rahasia kepadamu
2. Ia tidak menceritakan rahasia itu kepada orang lain
3. Didalam kesusahan ia tidak akan meninggalkanmu
4. Untuk membela dirimu, ia bersedia mengorbankan nyawanya.
Atas empat dasar sahabat yang menasihatkan apa yang engkau lakukan sebagai yang berhati tulus, yaitu;
1. Ia mencegah engkau berbuat salah
2. Ia mengajurkan engkau untuk berbuat yang benar
3. Ia memberitahukan apa yang belum pernah engkau dengar
4. Ia tunjukkan padamu jalan kesurga.
Atas empat dasar sahabat yang bersimpati harus dipandang berhati tulus, yaitu;
1. Ia tidak merasa senang atas kesusahanmu
2. Ia merasa senang akan kesuksesanmu
3. Ia cegah orang lain bicara jelek tentang dirimu;
4. Ia sanjung setiap orang yang memuji dirimu.
Sebenernya boleh ga sich pacaran itu?
Kalau dilihat dari perkembangan budaya dan keanekaragaman pergaulan kayaknya ngga mungkin kalau pacaran itu dibumi hanguskan, jadi menurut pandangan saya boleh2 saja tapi gimana kita menyikapi hal tersebut hingga tidak terjebak dalam kemaksiatan. Nah beberapa pengetahuan dari saya ada beberapa hal disini akan membantu pencerahan, bagaimana pacaran yang nyaman, dan sehat itu?, ada beberapa tips yang akan kita bahas……, OK mari kita bahas..
Sebelumnya saya pernah membaca disalah satu buku dan membuat saya penasaran untuk saya baca dan setelah saya pahami ternyata memang nyaman buat menjalin hubungan dan tidak hanya untuk pacaran saja melainkan juga untuk relationship yang lain, teknik ini disebut SMART, nah apa itu SMART ……..?
SPESIFIK yang artinya khusus, tertentu atau hanya itu saja. Disini kita mencoba bermain pikiran dan niat sebelum terjadinya hubungan itu, anda pacaran itu niatnya apa sich? keperluannya apa sich? atau pengennya menghasilkan apa dari pacaran itu, pasti beda donk definisi atau niat pacaran antar manusia satu dengan yang lain…., nah langkah awal ini harus jelas dan ga boleh menyimpang, bahaya!!
Misalnya mungkin pacaran itu hanya mencari sebuah status gender atau pengen dilihat bawa gandengan. Seperti yang saya bilang diatas, saya ragu kalau niat pacaran sekarang itu untuk want to know for married, …., Intinya kalau sekedar iseng atau coba-coba mending tidak melakukan… kasihan manusiakan, mereka juga punya prasaan hehehe…. nah setelah niat awal udah jelas baru deh melangkah ke jalan berikutnya….
MEASURABLE atau terukur. Nah hal ini perlu diperhatikan setelah menjalani proses PDKT alias pendekatan awal lanjutan setelah jalan atau jadian…, terukur disini maksudnya apakah semua yang anda rencanakan udah terukur sampai batas mana anda mengenal dan memahami pasangan anda, pasti ada tingkatannya, masa setahun jalan belum tau apa-apa tentang pasangan anda kan ga mungkin, sepertti halnya kebaktian kevihara kian hari harusnya kian khusyuk jangan malah ditinggalin…, Intinya hubungan anda ini kayaknya bisa dilanjutkan atau tidak? atau malah bikin runyam kegiatan anda??
Selanjutnya ACHIEVABLE atau jelasnya dapat tercapai. hal ini tidak jauh dari tahap terukur diatas cuman kalau pacaran tadi tidak menghasilkan hal-hal positif dan memacu anda untuk berbuat baik dan jauh dari maksiat kenapa pacaran itu dilakukan?? betul ga??
REASONABLE alias layak, pantas dan masuk akal. Apa sich yang membuat pacaran itu pantas, layak dan masuk akal? tentu ada alasannya, misalnya gini jika anda benar-benar pacaran itu untuk nikah tunjukin donk pada orang-orang kalau anda itu pacaran jelas dan tidak neko-neko atau sekedar menjalankan proyek buaya (playboy/playgirl) nah ini harus jelas apalagi kejelasan keluarga atau modal juga harus dipikirin, selain itu juga harus memperhatikan manajemen pacaran yang benar-benar bisa memberikan kontribusi yang baik bagi kita dan pasangan kita…
Finally, TIME , bahasa Indonesianya waktu, jelas tau semua donk, target, pencapaian, klimaks…., kapan memulai, kapan klimaks dan kapan mengakhirinya. Ini semua harus jelas, jadi kalau anda sekalian hanya diberi iming-iming jangan mau, mending minta kejelasan dari pada berabe, bubar semua malah kacau. Seperti halnya pekerjaan redaksi semua ada tahapannya dari mulai rapat redaksi, bagi tugas liputan, penulisan, editing, layout hingga jadwal cetak dan sampai ke tangan pembaca semua harus rapi semua itu harus jelas urutannya. Intinya jikalau mertua sudah bilang, ” kapan mau menikahi anak saya?”, jangan sampai anda jawabnya, ” Masih lama pak, belum mapan segala sesuatunya, yach main-main dulu aja lah pak, santai”, waduh bisa-bisa rumah kamu dibakar tuh ama mertua, gila udah berlama-lama pacaran ternyata masih ga jelas juga, belum siap kok nekat??
Kesimpulan
Untuk menjalin sebuah hubungan yang baik atau dalam bahasa kerennya disebut pacaran ini kita memang betul-betul dituntut untuk bisa menentukan seorang sahabat yang bisa memahami kita including orang tua kita. Sahabat tersebut harus bisa menjadi penolong, sahabat pada waktu senang dan susah, sahabat yang memberikan apa yang engkau butuhkan dan ia menggetar simpati untuk dirimu. Empat jenis sahabat ini adalah orang bijaksana yang harus dikenali sebagai sahabat dan kepada empat sahabat ini ia harus menyediakan dirinya bagaikan seorang ibu terhadap anak kandungnya sendiri. So, berpacaran menurut ajaran Buddha tidak diperbolehkan melakukan suatu tindakan yang merugikan atau membuat orang lain menderita, similarly harus membuat pasangan anda berbahagia dan gembira atas sikap anda yang tidak melanggar sila atau norma-norma yang ada.
Nah………, gitu dech sekilas dari apa yang bisa saya sampaikan dan semoga tips diatas bisa anda terapkan dalam menjalin sebuah hubungan yang baik. Ehmm, inget ini semua masih dalam porsi latihan manajemen berpacaran, meski melatih kita untuk menghindar dari hal-hal yang tidak baik namun jika dalam hubungan tersebut melanggar batasan-batasan yang ditetapkan Ajaran Buddha maka tetap saja diberi label AKUSALA KAYAKAMMA alias kamma buruk yang dilakukan melalui perbuatan!!” sumber

Tuhan dalam Agama Buddha


Perlu ditekankan bahwa Buddha bukan Tuhan. Konsep ketuhanan dalam agama Buddha berbeda dengan konsep dalam agama Samawi dimana alam semesta diciptakan oleh Tuhan dan tujuan akhir dari hidup manusia adalah kembali ke sorga ciptaan Tuhan yang kekal.
Ketahuilah para Bhikkhu bahwa ada sesuatu Yang Tidak Dilahirkan, Yang Tidak Menjelma, Yang Tidak Tercipta, Yang Mutlak. Duhai para Bhikkhu, apabila Tidak ada Yang Tidak Dilahirkan, Yang Tidak Menjelma, Yang Tidak Diciptakan, Yang Mutlak, maka tidak akan mungkin kita dapat bebas dari kelahiran, penjelmaan, pembentukan, pemunculan dari sebab yang lalu. Tetapi para Bhikkhu, karena ada Yang Tidak Dilahirkan, Yang Tidak Menjelma, Yang Tidak Tercipta, Yang Mutlak, maka ada kemungkinan untuk bebas dari kelahiran, penjelmaan, pembentukan, pemunculan dari sebab yang lalu.
Ungkapan di atas adalah pernyataan dari Sang Buddha yang terdapat dalam Sutta Pitaka, Udana VIII : 3, yang merupakan konsep Ketuhanan Yang Mahaesa dalam agama Buddha. Ketuhanan Yang Mahaesa dalam bahasa Pali adalah Atthi Ajatam Abhutam Akatam Asamkhatam yang artinya “Suatu Yang Tidak Dilahirkan, Tidak Dijelmakan, Tidak Diciptakan dan Yang Mutlak”. Dalam hal ini, Ketuhanan Yang Maha Esa adalah suatu yang tanpa aku (anatta), yang tidak dapat dipersonifikasikan dan yang tidak dapat digambarkan dalam bentuk apa pun. Tetapi dengan adanya Yang Mutlak, yang tidak berkondisi (asankhata) maka manusia yang berkondisi (sankhata) dapat mencapai kebebasan dari lingkaran kehidupan (samsara) dengan cara bermeditasi.
Dengan membaca konsep Ketuhanan Yang Mahaesa ini, kita dapat melihat bahwa konsep Ketuhanan dalam agama Buddha adalah berlainan dengan konsep Ketuhanan yang diyakini oleh agama-agama lain. Perbedaan konsep tentang Ketuhanan ini perlu ditekankan di sini, sebab masih banyak umat Buddha yang mencampur-adukkan konsep Ketuhanan menurut agama Buddha dengan konsep Ketuhanan menurut agama-agama lain sehingga banyak umat Buddha yang menganggap bahwa konsep Ketuhanan dalam agama Buddha adalah sama dengan konsep Ketuhanan dalam agama-agama lain.
Bila kita mempelajari ajaran agama Buddha seperti yang terdapat dalam kitab suci Tipitaka, maka bukan hanya konsep Ketuhanan yang berbeda dengan konsep Ketuhanan dalam agama lain, tetapi banyak konsep lain yang tidak sama pula. Konsep-konsep agama Buddha yang berlainan dengan konsep-konsep dari agama lain antara lain adalah konsep-konsep tentang alam semesta, terbentuknya Bumi dan manusia, kehidupan manusia di alam semesta, kiamat dan Keselamatan atau Kebebasan.
Di dalam agama Buddha tujuan akhir hidup manusia adalah mencapai kebuddhaan (anuttara samyak sambodhi) atau pencerahan sejati dimana batin manusia tidak perlu lagi mengalami proses tumimbal lahir. Untuk mencapai itu pertolongan dan bantuan pihak lain tidak ada pengaruhnya. Tidak ada dewa – dewi yang dapat membantu, hanya dengan usaha sendirilah kebuddhaan dapat dicapai. Buddha hanya merupakan contoh, juru pandu, dan guru bagi makhluk yang perlu melalui jalan mereka sendiri, mencapai pencerahan rohani, dan melihat kebenaran & realitas sebenar-benarnya. sumber

Sidharta Buddha Gautama Adalah Seorang Nabi

Alhamdulillah, ternyata Sidharta Buddha Gautama adalah seorang muslim, mari kita telaah bukti-buktinya:

1. Menurut Abu’l Kalam Azad (seorang Urdu scholar), Sang Buddha (Buddha Shakyamuni) yang dikenal sebagai guru suci bagi umat Buddha tidak lain adalah Nabi Zulkifli as, yg dalam Al-Quran disebut sebagai Nabi yg mempunyai tingkat kesabaran yang tinggi, dan sangat baik. Dalam bahasa Arab Zulkifli sendiri berarti “orang yg berasal dari Kifl”.Sedangkan Kifl itu sendiri, masih menurut Kalam Azad, merupakan nama Arab untuk Kapila (singkatan dari Kapilavastu).

2. Buddha Maitreya yang dikenal dalam agama Buddha sebagai “Buddha yang akan datang” menurut beberapa analisa tidak lain adalah Nabi Muhammad saw. Dalam kitab Chakkavatti Sinhnad Suttanta D. III, 76 bisa ditemui: “There will arise in the world a Buddha named Maitreya (the benevolent one) a holy one, a supreme one, an enlightened one, endowed with wisdom in conduct, auspicious, knowing the universe“.




SIAPAKAH NABI ZULKIFLI?
Zulkifli bermaksud sanggup menjalankan amanah raja. Menurut cerita, raja di negeri itu sudah lanjut usia dan ingin mengundurkan diri daripada menjadi pemerintah, tetapi beliau tidak mempunyai anak.

Justeru, raja itu berkata di khalayak ramai:”Wahai rakyatku! Siapakah antara kamu yang sanggup berpuasa pada waktu siang dan beribadah pada waktu malam. Selain itu, sentiasa bersabar ketika menghadapi urusan, maka akan aku serahkan kerajaan ini kepadanya.”

Tiada seorang pun menyahut tawaran raja itu. Sekali lagi raja berkata:”Siapakah antara kamu yang sanggup berpuasa pada waktu siang dan beribadah pada malamnya serta sanggup bersabar?”




Sejurus itu, Basyar dengan suara yang lantang menyatakan kesanggupannya. Dengan keberanian dan kesanggupan Basyar melaksanakan amanah itu beliau diberi gelaran Zulkifli.

Baginda juga adalah nabi yang cukup sabar seperti firman Allah, bermaksud:
“Ismail, Idris dan Zulkifli adalah orang yang sabar dan Kami beri rahmat kepada semua karena mereka orang yang suka bersabar.”

SIAPAKAH SIDDHARTHA GAUTAMA?
Pada akhir abad ketujuh S.M. (tahun 623 S.M.), lahirlah seorang yang bernama Siddhartha Gautama di bandar Kapilavastu/Kapilavathu (Kapil, lidah Arab menyebut Kafil @ Kafli). Siddhartha Gautama merupakan putera kepada Raja Suddhodana dan Permaisuri Maha Maya. Raja Suddhodana dari keturunan suku kaum Sakyas, dari keluarga kesastrian dan memerintah Sakyas berdekatan negeri Nepal. Manakala Permaisuri Maha Maya pula adalah puteri kepada Raja Anjana yang memerintah kaum Koliya di bandar Devadaha.

Sebelum kelahiran Buddha: Permaisuri bermimpi dibawa oleh 4 orang dewa ke sebuah gunung yang tinggi. Kemudian, permaisuri melihat seekor gajah putih yang cantik. Pada belalai gajah itu terdapat sekuntum bunga teratai. Gajah mengelilinginya 3 kali sebelum masuk ke dalam perut permaisuri.

MAKSUD ISTILAH BUDDHA
Dalam agama Buddha, perkataan Buddha bermaksud ‘seorang yang bijaksana’ atau ‘dia yang mendapat petunjuk’. Kadang kala istilah ini digunakan dengan maksud ‘nabi’. Gautama Buddha pernah menceritakan kedatangan seorang Antim Buddha. Perkataan Antim bermaksud ‘yang terakhir’ dan Antim Buddha bermaksud ‘nabi yang terakhir’ (Antim terakhir yang dimaksudkan ialah Muhammad SAW sebagai Nabi dan Rasul terakhir). Pada saat kematian Gautama Buddha, beliau memberitahu perkara ini kepada pengikut setianya bernama Ananda.

Makna “Nabi” dalam bahasa Arab (berasal dari kata naba yang berarti “dari tempat yang tinggi”; karena itu orang ‘yang di tempat tinggi’ dapat melihat tempat yang jauh). Nabi dalam bahasa Arab sinonim dengan kata Buddha sebagaimana yang difahami oleh para penganut Buddha. Sinonimnya pengertian ini dapat diringkaskan sebagai “Seorang yang diberi petunjuk oleh Tuhan sehingga mendapat kebijaksanaan yang tinggi menggunung”.

RINGKASAN KISAH SIDDARTHA GAUTAMA
Kelahiran Bodhisatta (Bodhisattva, bakal Buddha atau bakal mencapai Pencerahan) pada tanggal 623 S.M. pada bulan purnama Vesak. Selepas sahaja Bodhisatta dilahirkan, Permaisuri Maha Maya mangkat selepas tujuh hari melahirkan anak.

Pada hari kelahiran Bodhisatta telah disadari secara ghaib oleh seorang tua yang sedang bertapa di kaki gunung Himalaya yang digelar Asita Bijaksana (nama asalnya Kala Devala). Asita bergegas ke istana pada keesokannya untuk melihat dan menilik putera Raja Suddhodana.

Asita mendapati terdapat 32 tanda utama dan 80 tanda kecil menunjukkan Bodhisatta bakal menjadi Manusia Agung dan Guru Agung kepada manusia dan dewa-dewa (i.e. Jin dan Malaikat, kelemahan umat Hindu dan Buddha ialah tidak dapat bedakan antara Jin dan Malaikat yang keduanya dipanggil DEWA-DEWA).

Asita menangis karena sedih tidak sempat mendengar ucapan dan pengajaran Buddha di masa akan datang, beliau kemudian berlutut tunduk hormat kepada bayi Bodhisatta.

Kenyataan terakhir Asita ialah Bodhisatta hanya akan menjadi salah satu dari dua yaitu sekiranya ia kekal membesar dalam istana dia akan menjadi Maharaja Agung manakala kalau dia berjaya lari dari istana maka dia akan menjadi Mahaguru Agung.

Upacara menamakan putera raja diadakan pada hari kelima selepas Boddhisatta dilahirkan. Pada akhir majlis itu, 108 orang bijaksana memutuskan nama yang sesuai untuk putera raja iaitu SIDDHARTHA GAUTAMA yang membawa maksud ‘Cita-Cita Terkabul’.

Siddhartha kemudian membesar di istana dan belajar kepada seorang guru istana bernama Sirva Mitra. Beliau menjadi pelajar yang luar biasa pintar dan mahir dengan ilmu ketenteraan. Yang menjadi keheranan kepada orang disekeliling dan gurunya ialah sifat Siddharta yang sensitif terhadap penganiayaan hingga tidak ada seorang pun yang beliau lihat menganiaya binatang kecuali mencegahnya serta merta.

Malah beliau sangat bersedih melihat para petani berkerja keras membajak tanah dibawah terik matahari menyebabkannya lari ketempat lain ke sebuah pohon (Tiin-Bodhi) dan duduk di sana secara bertafakur (samadhi) untuk membuang stress.

PERSAMAAN NABI ZULKIFLI DENGAN SIDDARTHA GAUTAMA
Maka berbalik kepada maudhu’ perbahasan, benarkah Buddha itu disebut dalam Al-Qur’an? Sebenarnya tidak ada kata-kata “Buddha” dalam Al-Qur’an, namun menurut Dr. Alexander Berzin bahawa terdapat catatan para sejarawan dan peneliti yang mengaitkan beberapa ayat Al-Qur’an dengan Sang Buddha, yaitu pada maksud ayat;

“Demi (buah) Tin (fig) dan (buah) Zaitun, dan demi bukit Sinai, dan demi kota (Mekah) ini yang aman, sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya. Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya (neraka), kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh; maka bagi mereka pahala yang tiada putus-putusnya. Maka apakah yang menyebabkan kamu mendustakan (hari) pembalasan sesudah (adanya keterangan-keterangan) itu? Bukankah Allah Hakim yang seadil-adilnya?”(At-Tin 95 : 1)

Beliau menjelaskan bahwa buah Zaitun melambangkan Jerusalem, Isa a.s. (Jesus, Kristian). Bukit Sinai melambangkan Musa a.s. dan Yahudi. Kota Mekah pula menunjukkan Islam dan Muhammad SAW. Manakala pohon Tin (fig) pula melambangkan apa?

Tin (fig) = Pohon Bodhi

Pohon Bodhi adalah tempat Buddha mencapai Pencerahan Sempurna. Al-Qasimi di dalam tafsirnya berpendapat bahawa sumpah Allah SWT dengan buah tin yang dimaksud ialah pohon Bodhi. Prof. Hamidullah juga berpendapat sama dengan al-Qasimi bahawa perumpamaan pohon (buah) tin (fig) di dalam Al-Qur’an ini menunjukkan Buddha itu sendiri, maka dari sinilah mengapa sebahagian ilmuan Islam meyakini bahawa Buddha telah diakui sebagai nabi di dalam agama Islam.

Manakala Hamid Abdul Qadir, seorang sejarawan abad ke-20 mengatakan dalam bukunya Buddha Yang Agung: Riwayat dan Ajarannya (Arab: Budha al-Akbar Hayatuh wa Falsaftuh), menjelaskan bahawa Buddha adalah nabi Dhul-Kifl, yang bererti “ia yang berasal dari Kifl”. Nabi Dhul-Kifl @ Zulkifli disebutkan 2 kali dalam Al-Qur’an:

“Dan (ingatlah kisah) Ismail, Idris dan Dzulkifli (Dhul Kifl). Semua mereka termasuk orang-orang yang sabar.” (Al-Anbiya’ 21: 85).

“Dan ingatlah akan Ismail, Ilyasa, dan Dzulkifli (Dhul Kifl). Semuanya termasuk orang-orang yang paling baik.” (Shad 38 : 48).

KESIMPULAN
“Kifl” adalah terjemahan Arab dari Kapilavastu (Kapil), tempat kelahiran Bodhisattva (Buddha). Hal ini juga yang mungkin menyebabkan Mawlana Abul Azad seorang ahli teologi Muslim abad ke-20 turut menekankan bahawa Dhul-Kifl dalam Al-Qur’an boleh jadi adalah Buddha.

Dalam sejarah Islam, Nabi Zulkifli a.s. adalah antara nabi yang mempunyai cerita yang paling sedikit dibicarakan. Hal ini mungkin menjadi faktor kepada sebahagian ulama’ menyamakan watak Dzul-Kifli dalam Al-Qur’an dengan Buddha yang secara kebetulan banyak persamaan sekiranya disuaikan.

Yang menarik perhatian saya ialah mengenai surah at-tin (the fig). Allah berfirman mengenai pokok/buah tin, pokok/buah zaitun, bukit sinai dan kota mekah. Mekah dikaitkan dgn Nabi Muhammad s.a.w., Bukit Sinai dengan Nabi Musa, zaitun dengan Nabi Isa a.s., dan siapa pula dikaitkan dengan buah atau pokok tin?

Dikatakan dalam sejarah bahawa Gautama Buddha duduk bawah pokok tin. Kalau ikut istilah islam, dia dapat wahyu masa duduk bawah pokok tersebut. Ikut tulisan orang Buddhist, dia dapat ilham masa duduk bawah pokok tersebut.

Bila Allah berfirman :“Wattiini wazaitun. watuurisinina wahazal baladil amin.”
Allah menyebut perihal Nabi-Nabi-Nya. Tiin (Nabi Zulkifli-Buddha), Zaitun (Nabi Isa a.s), Siniina- bukit Sinai (Nabi Musa) dan Baladil amin -Tanah yang aman dan selamat (Mekah)- Nabi Muhammad saw. ia ikut urutan, hebatnya Qur’an sebagai kalimat Tuhan susunan sejarah riwayat Nabi-Nya. Mari kita sama-sama fikirkan. ALLAHUAKBAR !! sumber
 
Support : Twenty One | Dokumen Unik | Tribun Download
Copyright © 2011. Weekepedia - All Rights Reserved
Template Modify by Creating Website
Proudly powered by Blogger